Cahaya Selaras Insani

Cahaya Selaras Insani. Inspirasi - Harmoni - Solusi. Kami siap membantu pribadi-pribadi yang ingin berubah menjadi lebih baik dan bahagia, dalam format : Seminar, Pelatihan, Workshop/Lokakarya, sesi konsultasi/terapi.

Cahaya Selaras Insani

ads header
  • Tuesday, March 21, 2017

    Lebih Mudah Memaafkannya bila Memahami Alasan dan Niat Baiknya

    Terapi, Konsultasi emosi
    Lanjutan “Harus Ikhlas Menerima bila Ingin Rela Melepaskan Kepedihan”


    Suara tepukan tangan dan kata-kata saya berhasil menghentikan tangisnya. Dia mendongakkan kepala, menunggu instruksi saya berikutnya sambil mengusap sisa air di pipi dan hidungnya.

    Saya berdiri,  kemudian memindahkan kursi yang saya duduki ke tepat di depannya, saya tetap berdiri di sampingnya. “Saya minta Mbak membayangkan orang yang telah mengkhianati Mbak duduk di kursi itu...Pejamkan mata dulu bila bisa memudahkan membayangkan...Bisa...?”

    Ibu itu diam memejamkan mata, sejenak berusaha melakukan yang saya minta kemudian mengangguk.

    “Ok...sekarang silakan curahkan semua yang ada di hati Mbak ke dia...Muntahkan semua perasaan Mbak ke dia...Silakan lakukan...!”

    Tubuh Ibu itu mulai bergetar. Dia berusaha mengatakan sesuatu, sangat pelan dan berat...

    “Silakan keluarkan saja semua Mbak...Boleh pelan tapi pastikan dia yang duduk di depan Mbak itu bisa mendengarnya...Ayo sampaikan saja Mbak...!”

    Suara Ibu itu berangsur-angsur semakin nyaring dan kata-kata yang keluar semakin lancar. Wajahnya memerah dan mengeras, tangannya mengepal dan sesekali menunjuk kursi kosong di depannya. Air matanya mengalir, dia berbicara sambil menangis.  Saat dia berhenti berbicara agak lama saya minta untuk melanjutkan sampai benar-benar puas. Lebih satu menit dia mencurahkan perasaannya,  dengan sedikit kata-kata makian dalam tangisan, yang kemudian berhenti lama dan berkata bahwa dia sudah cukup.

    Saya minta dia berdiri dari kursinya, kemudian saya mengajukan beberapa pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan masalah seperti tentang alamat rumah, jarak tempuh rumahnya ke rumah saya dan lain-lain. Kemudian saya minta dia duduk di kursi saya.
    “Sekarang Mbak saya minta membayangkan menjadi dia yang telah mengkhianati Mbak...Mbak harus melihat dengan sudut pandang dia, mendengar seperti apa yang dia dengar, dan berusaha merasakan apa yang dia rasakan. Saya yakin Mbak bisa karena khan mengenalnya dengan baik...” Ibu itu mengangguk, memejamkan mata berusaha melakukan apa yang saya minta. “Bisa Mbak...?” Dia mengangguk...

    “Ok...Fulan...Tadi Anda sudah mendengar curahan perasaan saudari saya yang menderita karena merasa Anda khianati. Sekarang silakan sampaikan apapun yang ingin Anda sampaikan...Silakan Mbak itu ada di depan Anda” Saya menunjuk kursi kosong.

    Pelan dan agak ragu Ibu itu mulai berkata-kata sebagai orang yang mengkhianatinya. Semakin lama semakin lancar. Beberapa kali saya mengingatkan dia untuk konsisten dalam perspektif orang itu ketika saya menangkap gejala dia berbicara sebagai dirinya sendiri. Kurang dari satu menit Ibu itu sudah kehabisan bahan untuk dikatakan, maka saya minta dia berdiri lagi. Sekali lagi saya bertanya beberapa hal yang tidak ada hubungannya dengan masalah. Kemudian saya minta dia bergeser dan berdiri di tempat saya berdiri sebelumnya. Saya minta dia memandang dua kursi kosong, kursinya dan kursi saya, dan saya minta dia membayangkan diri sebagai saya : orang ketiga. Saya minta dia menyampaikan sesuatu, entah itu nasihat, komentar, atau apapun dari perspektif saya kepada kursi kosong perwujudan dirinya dan kursi kosong perwujudan orang yang dianggap mengkhianatinya. Kali ini dia bisa langsung berbicara lancar, namun hanya sedikit yang dia katakan.

    Setelah selesai saya minta dia duduk di kursinya, dan saya duduk di kursi saya “Bagaimana perasaan Mbak sekarang...?”

    Dia memejamkan mata sebentar, memandang ke atas, kiri, kanan, menarik napas dan melepaskannya. “Terasa lega Mas...ringan...”

    “Bagaimana...Mbak bisa ikhlas menerima, memaafkan dan merelakannya...?”

    Dia mengangguk berapa kali kemudian menjawab tegas :” Bisa...bisa Mas...”

    “Tahukah Mbak...Kenapa sebelumnya Mbak sulit sekali memaafkan dia, tetapi sekarang bisa...?”

    “Kenapa Mas...?”

    “Sebelumnya Mbak sangat sulit dan berat memaafkan dia, karena Mbak selalu berada di posisi Mbak sendiri dan enggan memahami posisi dia. Yang dia lakukan memang salah, tapi setiap orang punya alasan dalam melakukan sesuatu. Berusaha memahami alasan dia mungkin tidak bermanfaat baginya yang sudah melakukan kesalahan kepada Mbak, tapi sangat bermanfaat bagi Mbak sendiri....”

    Bila terlalu sulit memaafkan seseorang, cari dan pahami alasan serta niat baik di balik perilakunya.


    (catatan : dialog ini adalah fiktif berdasarkan rangkuman sesi terapi nyata dari beberapa klien yang memiliki kemiripan masalah)

    No comments:

    Post a Comment

    Testimoni

    Seminar

    Workshop