Cahaya Selaras Insani

Cahaya Selaras Insani. Inspirasi - Harmoni - Solusi. Kami siap membantu pribadi-pribadi yang ingin berubah menjadi lebih baik dan bahagia, dalam format : Seminar, Pelatihan, Workshop/Lokakarya, sesi konsultasi/terapi.

Cahaya Selaras Insani

ads header
  • Tuesday, February 21, 2017

    Ikhlas Menerima dulu sebelum Rela Melepaskan Kepedihan


    ...lanjutan “Memaafkan Bukan Melupakan”

    Terapi, Konsultasi emosi


    Agar bisa merelakan Anda harus ikhlas menerimanya dulu

    Beberapa hari kemudian ibu paruh baya  yang mengalami depresi karena merasa dikhianati orang kepercayaannya datang lagi. Dari ekspresi wajah dan nada suaranya saya menangkap belum ada perbaikan emosi, meskipun juga tidak bertambah parah.

    "Saya sadar bahwa saya harus rela memaafkan dia bila ingin tenang...Tapi sulit sekali Mas...Mungkinkah itu dilakukan? Atau jangan-jangan itu  hanya teori saja...?"

    Saya tersenyum, lega, dia punya kemauan untuk berupaya berubah. "Memang tidak mungkin Mbak..."

    "Lha kalau tidak mungkin kok saya disuruh melakukannya...? Bagaimana sich Mas...?!"

    Saya tidak segera menjawab, mengambil sebuah buku tebal yang tergeletak di atas meja. "Buku ini tebal dan lumayan berat...Kalau Mbak memegang buku ini lama capek nggak? Coba bayangkan...!"

    "Ya capek Mas..."

    "Sekarang lepaskan saja...lepaskan buku ini..."

    Dia hanya terdiam memandang saya.

    "Segera lepaskan Mbak...! Kok diam saja...?"

    "Bagaimana sich Mas...? Bukunya khan masih Mas pegang, belum saya pegang...Bagaimana saya bisa melepasnya...?!"

    Saya memberikan buku itu kepadanya "Itulah yang terjadi Mbak...Anda harus menerima buku ini dulu baru bisa melepasnya...Tidak mungkin melepaskan sesuatu yang belum Mbak terima…Tidak mungkin merelakan sesuatu yang belum Mbak terima…"

    "Maksudnya …saya harus mau menerima pengkhianatannya dulu baru bisa memaafkannya...???" Suaranya agak meninggi.

    "Begitulah yang harus Mbak lakukan..."

    "Ya gak sudi Mas...!! Siapa di dunia ini yang mau dikhianati?! Mas mau...?"

    "Saya, Mbak, dan semua orang tidak ada yang mau dikhianati. Karena itu kita harus berusaha menghindarinya. Tapi kalau itu, pengkhinatan itu sudah terjadi bagaimana?" Saya berhenti sejenak, memberinya waktu untuk berpikir. "Mbak sudah dikhianati olehnya...sudah terjadi...mau ataupun tidak Mbak tidak bisa menyangkalnya, harus menerima kejadian itu..."

    "Berarti saya harus menerima kalau sudah dikhianati...?" Suaranya kini melirih.

    "Adakah pilihan lain? Apakah lebih baik kalau Mbak menyangkalnya? Menolaknya, menganggap kejadian itu tidak pernah terjadi...?"

    ...nggak ada sich...enggak...

    Mbak harus ikhlas menerima bahwa Mbak sudah dikhianati olehnya. Penyangkalan, penolakan yang Mbak lakukan dalam pikiran sadar maupun bawah sadar itulah yang menyebabkan depresi semakin berat.
    Mbak harus menerima dulu bila ingin melepaskan...


    “ ...Saya ingin bisa menerimanya...Tapi...sakit sekali Mas...” Ibu itu menundukkan kepalanya. Air matanya mengalir, dia berusaha mengusapnya.

    Saya sodorkan sekotak tisue.

    “Terima kasih...” Dia menarik beberapa lembar tisue dan mengusap air di mata dan hidungnya. “...Sakit sekali Mas...” Dia menekan dadanya “ Bagaimana mungkin saya bisa menerima itu semua...?”

    Saya menepukkan kedua telapak tangan “Ok Mbak...Saya akan membantu Mbak lebih mudah menerima dan melepaskan sakit itu...Mari kita bermain-main...” Suara saya buat tegas dan sedikit nyaring.


    Bersambung...

    No comments:

    Post a Comment

    Testimoni

    Seminar

    Workshop